Deskripsi
Raden Patah kecil tumbuh dengan nama yang tidak selesai, seperti orang yang hidup di antara dua pintu: satu pintu menuju asal-usul, satu pintu menuju masa depan. Ia tahu ibunya—ia tahu laut, pelabuhan, dan suara pasar—tetapi ia tidak pernah tahu wajah ayahnya.
Sampai suatu hari, kabar itu datang pelan, lebih tajam dari pedang: Prabu Brawijaya.
Kabar itu bukan kebanggaan. Kabar itu beban.
Dan beban itu tidak turun sebagai emas, melainkan sebagai pertanyaan: bagaimana menjadi anak ketika sejarah menuntutmu menjadi raja?








