Deskripsi
Senja Raffael Cendani selalu merasa waktu berjalan aneh sejak ayahnya meninggal, bukan karena jam berhenti, bukan karena dunia runtuh, justru karena segalanya berjalan terlalu normal. Di sore hari, langit kampungnya berwarna jingga pucat, burung- burung pulang ke sarang, dan suara azan menggema seperti biasa, orang-orang tetap tertawa, motor tetap lewat, dan warung kopi tetap penuh.Tapi di dada Senja, ada sesuatu yang terasa tidak selesai








