Deskripsi
Di dalam mimpi itu, Sasi selalu tahu jalan pulang. Dia tidak pernah bertanya-tanya harus belok ke mana. Kakinya hafal sendiri: dari pelataran batu yang luas dan bersih itu, lewat lorong bertiang tinggi yang dingin lantainya, belok di tiang ketujuh yang di baliknya ada kolam kecil berisi ikan-ikan sewarna emas, lalu keluar ke taman tempat matahari selalu sedang baik hatinya. Di puncak setiap tiang terukir bulan sabit. Di setiap sudut, harum bunga yang tidak pernah dia temukan di dunia terang, harum yang kalau dia coba ceritakan kepada orang lain, selalu berakhir dengan kalimat yang sama: pokoknya wangi, tapi bukan melati, bukan kenanga, bukan apa-apa yang ada di sini.








