Deskripsi
Bayangkan seorang pelari maraton berinisial AR. Usianya dua puluh delapan tahun. Sepatu larinya sudah usang karena ribuan kilometer yang ia tempuh sejak ia pertama kali berlari mengitari lapangan sekolah dasar di kampungnya. Ia tumbuh dengan kecepatan sebagai identitas anak yang selalu duluan sampai di mana-mana, yang kakinya seperti tidak pernah lelah, yang napasnya tetap teratur bahkan ketika semua orang lain sudah megap-megap. Ketika ia masuk universitas, kakinya membawanya ke tim atletik kampus, lalu ke kompetisi antar-provinsi. Nama AR mulai disebut- sebut sebagai harapan masa depan.








