Deskripsi
Al-Manfaluthi berusia tiga belas tahun ketika masuk ke Al-Azhar. Selama di sana, ia menjalin hubungan dengan Imam Syaikh Muhammad Abduh dan menjadi muridnya pada tahun-tahun terakhir kehidupan sang syekh. Ia menerima darinya pelajaran-pelajaran ilmiah dan keagamaan yang disampaikan kepada para pelajar. Disebutkan bahwa ia termasuk salah satu murid paling cerdas. Muhammad Abduh pun menyayanginya, hingga al-Manfaluthi menjadi salah satu sahabat terdekatnya. Sang syekh sangat menghormati dan mengaguminya. Ketika sebagian ulama Al-Azhar mulai menentang Imam Muhammad Abduh dan metode beliau dalam mengajarkan agama serta tafsir, Al-Manfaluthi tampil membela gurunya, sekaligus mengkritik mereka dan metode mereka. Saat sang imam wafat, Al-Manfaluthi sangat berduka, meratapi kepergiannya, lalu meninggalkan Al-Azhar tanpa memperoleh gelar ‘alimiyyah4. Ia kembali ke kampung halamannya di Manfalut dan tinggal di sana selama beberapa tahun sambil mengurus pekerjaan pribadinya.








