Deskripsi
Demokrasi tidak pernah hadir sebagai konsep yang netral. Ia selalu memuat pertanyaan mendasar tentang kekuasaan, keadilan, dan martabat manusia: untuk siapa kekuasaan dijalankan, siapa yang diuntungkan oleh sistem politik, dan siapa yang justru disisihkan atas nama prosedur demokrasi. Dalam konteks inilah pemikiran K.H. Abdurrahman Wahid, atau dikenal dengan Gus Dur, menemukan relevansinya yang mendalam. Gus Dur tidak memahami demokrasi hanya sebagai mekanisme elektoral, prosedur konstitusional, atau kompetisi partai politik, melainkan sebagai tatanan etika kemanusiaan yang menuntut keberanian moral, penghormatan terhadap perbedaan, dan keberpihakan pada mereka yang paling rentan dalam struktur kekuasaan.








